|
Ditulis Oleh Imran Makmur
|
|
Saturday, 26 January 2008 |
|
Aku masih berdiri di depan ruang tunggu pelabuhan. Jam tangan sengaja ku bawa agar aku dapat menetapkan waktu dengan pasti. Berkali kali ku melihat jam tangan yang berwarna coklat, pemberian dari seorang sahabat pada ulang tahunku yang lalu. Orang-orang memadati suasana pelabuhan saat ini. Aku harus menunggu berapa lama lagi, semenit, dua menit, sejam, dua jam, atau sehari, aku tak tahu. Sebuah pekerjaan yang aku benci sekarang telah memenjarakanku pada dimensi waktu yang seakan berhenti. Aku mengumbar pandangan pada semua orang, melihat mereka dengan segenap tingkah laku masing-masing. Ternyata bukan aku saja yang sedang bergelut melawan kebosanan, mereka pun memelas pada sang waktu agar mempercepat perputaran dimensinya. Pandanganku terpaut pada seorang bocah yang tertidur di pangkuan neneknya,henyak dan begitu lelap. Sang nenek pun manggut-manggut dipermainkan rasa kantuk, bahkan berkali-kali matanya pun ikut terpejam. Keriput disekitar kantung matanya senantiasa menahan rasa kantuk yang sangat. Keriput yang menjadi saksi pergelutan hidup dan getir pahit masa mudanya. Kuhela nafas dan beranjak dari kepenatan. Tangan kurenggangkan ke atas, merelaksasikan sendi sendi agar mampu melakukan geraknya dengan rileks. Penantian ini benar-benar membuatku bosan. Ingin sekali aku menenggelamkan dan menghancurkan penantian ini. Sangat ingin. Komentar (92) | Selengkapnya... |
|
|
Ditulis Oleh hAiR_ToLiEz
|
|
Saturday, 19 January 2008 |
|
Agraris, mungkin itulah identitas yang melekat selama ini pada bangsa kita. Sektor pertanian merupakan sektor andalan pada masa orde baru. Semua orang memuji kualitas pertanian kita, bahkan di buku-buku pelajaran SD dengan bangga pemerintah menulisakan tinta emas sejarah pertanian indonesia dengan tercapainya swasembada beras pada tahun 1984.
tapi sekarang, masih pantaskah kita menyebut indonesia sebagai negara agraris padahal masih saja mengimpor beras dari negeri tetangga? Masihkah pantas negara kita yang tercinta ini disebut sebagai negara agraris padahal masih saja mengimpor kedelai yang notabene sebagai bahan utama pembuatan tahu tempe? Masih pantaskah Indonesia mendapat gelar sebagai negeri agraris ketika tinggal sedikitnya lahan pertanian akibat pembangunan yang tak kenal arah? Komentar (101) | Selengkapnya... |
|
|
Ditulis Oleh hAiR_ToLiEz
|
|
Wednesday, 16 January 2008 |
|
Assalamu'alaikum Udah lama nich gak ngisi blog soalnya lagi sibuk belajar buat UAS sich, mudah-mudahan aja dapat nilai yang tinggi, Amien. Oh iya, saya baru aja ngubah tampilan blog ini, soalnya udah bosan tuch dengan tampilan yang lama. Kalo tampilan yang dulu cuma bisa bertahan selama 16 hari, kira-kira tampilan yang sekarang bisa bertahan berapa lama yach? Selain merubah tampilan, saya juga merubah tampilan Tool untuk memberi komentar. Dulu kalo mau ngasih komentar harus membuka jendela baru, sekarang gak lagi karna tool komennya berada di bawah artikel. Saya sengaja merubah tool komennya biar teman-teman yang terbiasa ngasih komen di blog berbasiskan Wordpress bisa dengan leluasa memberikan komennnya di blog saya yang berbasiskan Joomla!. Emank sich Joomla! Sebenarnya gak terlalu cocok dibuat blog, karena secara Default Joomla! Gak nyediain komponen pelengkap blog, seperti komentar, shout Box, pingback/trackback dan masih banyak lagi,tapi bukan berarti Joomla! Gak bisa dibuat blog, soalnya banyak komponen-komponen pelangkap Joomla! Di internet yang bisa dibuat blog. Komentar (147) | Selengkapnya... |
|
|
Ditulis Oleh hAiR_ToLiEz
|
|
Thursday, 10 January 2008 |
|
Assalamu'alaikum
Wah gak terasa akhirnya Blog ini memasuki usianya yang ke 10, eit tunggu dulu bukan sepuluh taon lo tapi 10 hari. Emank sich masih sangat belia dan masih rentan terhadap berbagai macam penyakit seperti penyakit “kanker otak” yang bikin saya gak punya inspirasi buat menulis, yach namanya juga baru belajar nulis dan menurut saya sich ini normal-normal aja karna saya yakin Chairil Anwar waktu belajar nulis puisi dulu pasti pernah mengalami gejala yang sama, gak mungkin donk tiba-tiba dengan sendirinya tangannya langsung merespon apa yang diperintahkan otaknya????? Kata penulis-penulis terkenal sich, kalo mau belajar nulis caranya cuma satu yaitu dengan menulis. Ya sama kayak kita waktu pertama kali belajar naik sepeda dulu, kalo mau bisa mengendarai sepeda ya harus naik sepeda. Walaupun awalnya lutut kita berdarah karena jatuh, tapi lama kelamaan akhirnya kita bisa juga mengendarai sepeda. Begitu juga dengan menulis,awalnya emank gak ada inspirasi tapi lama-kelamaan pasti bisa. Komentar (101) | Selengkapnya... |
|
|
Ditulis Oleh hAiR_ToLiEz
|
|
Sunday, 06 January 2008 |
|
Hari ini seperti biasa, ketika saya udah nyampe di warnet buat nulis Blog (maklum belon ada koneksi internet sendiri, tapi lagi ngumpulin duit buat langganan Internet BroadBand) saya melihat suatu “maklumat” dari pihak kepolisian, begini isinya:
Himbauan dari KEPOLISIAN RESORT MALANG (berdasarkan surat edaran dari POLDA JATIM No.POL B/2530/IX/2007/RESKRIM) kepada seluruh User / pengguna Warnet di Malang, Dihimbau untuk tidak membuka website / situs-situs PORNOGRAFI bagi pelanggar akan dikenakan sanksi pidana, pelanggaran 282 KUHP, tentang kejahatan kesopanan. DENGAN ANCAMAN HUKUMAN MAKSIMAL 1 TAHUN PENJARA. Sebuah ancaman yang tentunya “menakutkan” bagi yang sering buka situs-situs porno. Setelah membacanya saya pun “iseng-iseng” ingin membuka situs porno yang cukup terkenal, saya pun lalu mengetikkan nama dari situs yang ingin saya tuju pada adress bar firefox. Setelah saya menekan tombol Enter maka keluarlah halaman dari situs tersebut, karena belum “puas” dengan satu situs saja, maka saya pun membuka dua situs lagi dan halaman kedua situs itu pun muncul di layar komputer. Komentar (101) | Selengkapnya... |
|
|
Ditulis Oleh hAiR_ToLiEz
|
|
Friday, 04 January 2008 |
|
Di saat operator lain sibuk perang tarif, eSia malah ngasih duit..... Itulah sepenggal kalimat yang di ucapkan Ringgo di salah satu iklan eSia. Entah sudah berapa banyak dia melakoni iklan bersama eSia, dan sudah berapa banyak pula pihak eSia berusaha 'menyudutkan” operator seluler lain dengan iklan-iklannya? Entah mungkin karena kehabisan ide, iklan-iklan yang dibuat pihak eSia lebih banyak menyudutkan operator-operator seluler lainnya. Disalah satu iklan esia, Ringgo sedang mencari-cari operator selular dengan tarif yang murah, maka dia pun dihadapkan pada pilihan pertama (3/Three), “setiap melakukan isi ulang dapat bonus pulsa 3 kali lipatnya tapi dengan syarat yang sangat banyak, sampe-sampe si Ringgo ngos-ngosan membacanya. Lalu dia pun dihadapkan pada pilihan yang kedua (Indosat), Gratis bicara dari jam 12 malam sampe jam 5 subuh, “emanknya saya mau bicara sama hantu” begitulah kira-kira ekspresi dari Ringgo. Kemudian dia dihadapkan pada pilihan berikutnya yang isinya tetap “mengejek” operator lain. Akhirnya dia pun dihadapkan pada pilihan terakhir (esia) yang tarif bicaranya hanya Rp. 50/menit dan Rp. 1000/jam. Sekarang Apakah tarif murah yang dipatok eSia sebanding dengan kualitas layanan mereka?
Komentar (101) | Selengkapnya... |
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 7 dari 9 |